Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label CerPen. Tampilkan semua postingan

Kamis, 10 Desember 2015

Your Secret Admirer [CerPen]



Nindya.
“Dosennya engga ada Nin” kata santi. Anak dari NTT yang entah bisa nyasar di Jakarta.
Aku berjalan jontai menuju kursi yang selalu menjadi tempatku. Sudah bangun sepagi ini dan dengan tanpa dosa dan tanpa kabar, dosen engga dateng entah dengan alasan apa.
“mau pulang apa mau tetap di sini Nindya?” tanya Iqbal, salah satu temanku yang cerewet walaupun dia laki-laki.
“duluan aja Bal, aku masih males turun” jawabku malas. Aku basu saja duduk dan haruskah aku turun lagi?
Aku menatap sekeliling. Tidak ada orang satupun. Sepagi ini kampus memang biasa sepi.  Kakiku langsung refleks bangun lalu berjalan menyusuri lorong menuju tangga turun. Sepertinya aku butuh kopi untuk pagi ini.
--

Rabu, 30 September 2015

The Model [CerPen]

Rambutku beterbangan tertiup angin dari blower, cahaya lampu menyinari tubuhku, sorot mata kamera mengarah pada diriku.
“angkat dagumu Van” suara Sam, sang fotografer. Aku selalu melakukan apa yang ia pinta. Aku mengangkat daguku dan menyempurnakan pose ku.

The Eyes [CerPen]



Panas, satu kata yang keluar dari mulutku setelah bel sekolah berbunyi dan semua siswa berhamburan ke luar kelas untuk pulang.
“Alika” teriak seseorang dari belakangku, aku menghentikan langkah dan menengok ke belakang. ‘Raka’ aku menelan ludah sekuat tenaga.

Sebuah Akhir [CerPen]



Aku terduduk menunduk tanpa bisa berkata. Aku sibuk menahan ribuan butir air mata yang ingin mendobrak keluar tanpa mmemiliki rasa malu.
“aku sudah cerita kan tentang keberangkatanku ke Padang?” kata Bimo yang juga menunduk disebelahku. Suaraya terdengar begitu pelan dan terlantun begitu hati-hati.

Puisi [CerPen]



“engga Jar, kamu itu salah sangka!” aku berteriak pada fajar sore itu. Bagai mana tidak? Ia menuduhku berselingkuh dengan temannya sendiri. sudah gila orang ini.
“kamu SMS-an sama dia itu bukan bukti? Ada foto kamu di ponsel Dika itu bukan bukti?” Fajar tidak kalah membentakku.

Dia Matahari [CerPen]



Dia Matahari, sungguh namanya adalah Matahari. Tapi aku setuju pada orang tuanya, Matahari memang seperti matahari. Matanya hangat, wajahnya bersinar, senyumnya tenang dan gerak tubuhnya seperti tarian para ilalang, lembut.