Kamis, 10 Desember 2015

Your Secret Admirer [CerPen]



Nindya.
“Dosennya engga ada Nin” kata santi. Anak dari NTT yang entah bisa nyasar di Jakarta.
Aku berjalan jontai menuju kursi yang selalu menjadi tempatku. Sudah bangun sepagi ini dan dengan tanpa dosa dan tanpa kabar, dosen engga dateng entah dengan alasan apa.
“mau pulang apa mau tetap di sini Nindya?” tanya Iqbal, salah satu temanku yang cerewet walaupun dia laki-laki.
“duluan aja Bal, aku masih males turun” jawabku malas. Aku basu saja duduk dan haruskah aku turun lagi?
Aku menatap sekeliling. Tidak ada orang satupun. Sepagi ini kampus memang biasa sepi.  Kakiku langsung refleks bangun lalu berjalan menyusuri lorong menuju tangga turun. Sepertinya aku butuh kopi untuk pagi ini.
--

Dika.
Pagi ini tidak ada Dosen dan artinya aku tidak akan masuk kelas. Aku sudah terlanjur sampai kampus dan rasanya aku malas sekali kalo harus langsung pulang.
Aku membuka ponsel. Dari tadi hanya group BBM saja yang berisik mencaci maki dosen yang seenaknya tidak masuk tanpa pemberitahuan sebelumnya dan membiarkan yang sudah terlanjur datang jadi sia-sia. Seperti aku.
Aku tutup tab chat BBM dan memasukkannya kembali kedalam tas. Lalu...
Di sana. Tepat di depanku. Nindya baru saja duduk membawa segelas kopi dengan asap yang mengepul. Wajahnya sedikit masam. Ada apa sepagi ini?
Dia tersenyum! Aku membalasnya. Dan kali ini dia menyadari keberadaanku setelah beberapa kali ia tidak menyapaku walaupun kita berpapasan sangat dekat. Tapi kali ini ia tersenyum padaku.
Aku mengambil nafas panjang lalu meminum kopi yang hampir dingin di hadapanku. Calm down Dika. Jangan panik. Santai saja. Aku berusaha biasa saja seperti biasa. Menghampirinya? Tidak! Aku tahu apa yang akan ia lakukan. Pergi.
--
Nindya.
Kak dika dihadapanku. Tidak tepat didepanku memang. Tapi darisini aku dapat melihat dirinya begitu jelas.
Aku baru saja memberanikan diri untuk tersenyum dan yap! Dibalas! Untuk kali ini aku puas karena biasanya aku takut untuk menyapanya. Takut ia tidak mengingatku.
Aku membuang pandanganku pada segerombolan anak teknik yang sedang tertawa sambil memandangi ponsel mereka. Entah lah itu terlihat sangat tidak penting. Tapi ya tuhan aku mati gaya di hadapan kak Dika!

--

Dika.
Aku melihat jam. Kali ini sudah hampir keseribu kalinya. Dan aku masih belum bisa menemukan Nindya.
Haha aku tidak sedang janjian! Aku hafal. Hari ini adalah jadwalnya untuk ke toko buku di mall dekat rumahnya. Beberapa bulan yang lalu tidak sengaja aku melihatnya disini pada hari jum’at. Dan pada jum’at berikutnya ia ada di sana juga. Dan seterusnya sampai saat ini. Sudah lewat dari pukul 4 dan dia belum ada. Apa dia sedang tidak ingin ke toko buku? Tidak mungkin. Aku tahu Nindya mencintai toko buku. Matanya selalu berbinar saat dia ada disini.
Dia juga pecinta novel romance. Ia selalu berada di rak itu. Dan aku? Tentu saja berdiri di Rak sejarah agar dapat mengawasinya dari jauh namun terlihat jelas.
Menghampirinya? Tidak pernah! Aku tidak menjamin ia mengingat aku. Tapi. Setelah kemarin pagi ia tersenyum padaku. Aku yakin ia mengingat aku dan hari ini. Aku akan menyapanya.
Tapi. Seperti yang aku lihat. Tak ada Nindya di setiap sudut toko buku ini.
--
Nindya.
Aku telat, aku telat, aku telat......
Ini semua karena angkot yang berjalan dengan sangat lambat dan selalu berhenti di sembarang tempat. Belum lagi macet di stasiun lenteng agung.
Aku menengok jam tangan setelah membayar angkot. Jam 4! Aku langsung menaiki tangga penyebrangan dan sedikit berlari menuju pintu masuk mall. Mencari-cari eskalator lalu menuju toko buku.
Dan..
“hai Nindya” suara ini. Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya.
Aku berbalik “Edgar?” aku mengerutkan kedua alisku.
“kebetulan banget ya kita ketemu di sini” sapanya ramah dan menurutku sedikit menjijikan.
Aku membenci laki-laki di depanku ini. Dia mantan kekasihku yang dengan teganya menduakan aku lalu pergi begitu saja. Setelah itu ia meminta kembali sambil meminta maaf. Dan kenapa kebetulan yang bodoh ini menjebakku sekarang?
Aku ke tempat ini untuk bertemu kak Dika! Dan aku terlambat! Dan aku malah bertemu Edgar! Tuhaaaan....
Fyi: Edgar dan Kak dika berteman. Rumah mereka berdekatan. Dan aku mengenal kak dika dari Edgar. Tapi aku tidak peduli. Edgar sudah mati untukku.
--
Dika
Akhirnya Nindya datang. Tapi tak seperti yang aku harapkan. Dia bersama Edgar. Ya. Edgar mantan kekasihnya itu. Yang bodoh menyia-nyiakan Nindya.
Aku pikir Nindya tidak akan kembali pada Edgar. Tapi pemandangan di depanku ini.... ah... aku tidak tahu harus apa.
Kakiku refleks melangkah. Pergi menjauh dari mereka berdua. Entah lah seperti sakit. Nindya memang bukan milikku. Tapi sungguh, sejak pertama aku melihatnya, aku selalu ingin memilikinya. Sampai aku mendengar Edgar dan Nindya purus. Aku tahu Nindya adalah untukku.
Aku pusing! Aku mau pulang! Aku mau tidur! Lalu menangis dalam mimpi!
--
Nindya.
Aku mecari kak Dika di seluruh sudut toko buku. Selain di rak sejarah, aku sering melihatnya berada di rak bahasa dan majalah. Tapi kali ini aku tidak menemukannya.
Jadi fix! Hari ini sangat menjengkelkan! Tujuan utamaku adalah untu melihat kak Dika yang biasa ke tempat ini setiap hari Jum’at dan kali ini aku terlambat. Dan juga ketemu dengan Edgar yang dari tadi tidak berhenti membuntutiku.
“kamu nyari buku atau orang?” Edgar membuat kakiku berhenti bergerak.
“bukan urusan kamu” jawabku ketus lalu pergi.

--

Dika.
Sebenarnya semua ini kesalahan siapa? Aku yang diam-diam menyukai Nindya?
Sungguh aku pernah berusaha untuk tidak memikirkannya dan menghapus namanya sejak aku menyukainya dulu. Tapi demi tuhan. Banyak sekali kebetulan-kebetulan yang membuat aku malah semakin menginginkannya.
Setiap berhadapan dengan Nindya, aku seperti tidak dapat bernafas, dan terasa sangat mustahil untuk aku menyapanya dengan dia yang sangat-sangat tidak menyadari keberadaanku di sekitarnya. Kecuali di kantin beberapa hari yang lalu. Satu kali dari dua tahun lebih aku mengenalnya dan menyukainya.
Aku sudah duduk dengan cappuccino hangat di depanku. Hari ini hari senin Nindya biasanya lewat sini sebelum pulang. Sekedar membeli air mineral atau sering juga dia duduk sambil membuka notebooknya entah mengerjakan apa. Tapi yang terpenting aku dapat melihatnya.
Tapi ini sudah satu jam dan dia tidak muncul juga. apa kembalinya Edgar juga merubah kebiasaannya? Ah.. aku benci jika mengingat nama temanku itu.

--

Nindya.
Aku memeluk lututku sendiri di koridor kampus yang sudah hampir gelap karena sudah hampir malam.
Sakit.
Di kepalaku berputar-putar kata-kata Agis tadi siang.
‘aku suka sama kak Dika Nin’ begitu katanya
Lalu aku bertanya ‘Dika yang mana?’
Dengan riang Agis menjawab ‘ yang anak IT, kalo ga salah kata kamu dia temannya Edgar mantanmu itu. Entah perasaanku aja atau emang bener dia suka ngeliatin aku kalo ketemu di kantin’
Saat itu juga aku merasa semua tentang kak Dika abu-abu.
Tak ada yang aku beritahu tentang perasaanku memang. Cukup aku dan kalo bisa kak Dika juga walaupun mustahil.
Dan Agis. Sahabatku sendiri. Dia berkata akan berusaha untul mendapatkan kontak kak Dika.
‘Berusaha’ dan aku? Aku engga bisa seberani Agis yang lebih agresif untuk mendapatkan apa yang ia inginkan.
Ah sudah lah. Dapat melihat kak Dika setiap hari duduk di kantin sudah membuat aku senang.
Aku melihat jam di tanganku. Jam 7. Aku tahu kak Dika tidak mungkin masih ada di kantin seperti biasa. Ia pasti sudah pulang. Atau mungkin Agis sedang melancarkan aksinya dan mereka sedang duduk bersama di kantin sambim menikmati cappuccino seperti yang biasa kak Dika lakukan.

--

Dika.
Aku menggaruk-garuk kepalaku untuk entah keberapa kali. Aku pusing. Entah tadi ada perempuan yang meminta nomorku dan hari ini dia tidak berhenti menerorku.
Agis namanya. Cantik memang. Tapi dia sangat agresif dan tidak berhenti membuat ponselku berdering. Aku sedikit menyesal berusaha ramah dengan memberikan nomorku. Harusnya aku tahu perempuan agresif yang tiba-tiba menghampiri laki-laki di tengah-tengah kantin akan membuatku gila.
‘kak? Udah tidur ya?’ entah pesan keberapa.
Aku menutup ponselku lalu menutup wajahku dengan bantal. Andai yang meminta nomorku adalah Nindya.
Meminta nomornya? Aku belum pernah mencobanya.

--

Nindya.
Aku tidak mengharapkan kak Dika duduk di kantin seperti biasa. Aku tahu pasti dia sudah asik dengan Agis. Tadi Agis bilang ia sudah berhasil mendapatkan nomornya dan mereka SMSan sampai tengah malam.
Aku? Hanya tersenyum sebisaku karena hatiku bukan hanya teriris. Namun hancur perlahan.
Asap Cappuccino di depanku sudah menghilang. Aku yakin suda dingin karena tak aku sentuh sejak setengah jam yang lalu benda ini mendarat di hadapanku.
Aku sedang hancur. Dan ternyata aku tidak tertarik dengan kopi ini seperti biasanya.
Ini adalah keterlambatanku untuk berbuat. Untuk berusaha seperti yang agis lakukan. Sampai akhirnya aku benar-benar terlambat untuk mendapatkan yang aku inginkan sejak dua tahun yang lalu.
“Nindya” suara itu.
Aku menghapus semua pikiranku dan menengok ke belakang.
“Edgar?”
Dengan senyumnya ia duduk di sebelahku.
“ngapain di sini?” ini bukan kampusnya dan apa yang ia lakukan di sini?
“jemput kamu” katanya enteng.
Aku diam. Kali ini aku tidak mood untuk bertengkar apa lagi dengan Edgar. Sejujurnya. Aku sedang butuh seseorang untuk meredakan perasaanku.
“diminum itu kopinya. Terus aku antar pulang” katanya tanpa aku risaukan.
Aku masih diam. Haruskah?
Api sungguh aku butuh peralihan dari kak Dika.
Mataku kini menata- lurus ke depan.
Kak Dika ternyata ada di sana. Entah sejak kapan. Menatap ke arah kami.n lurus tanpa berkedip. Aku yakin persis seperti apa yang sedang aku lakukan.
“Hey kak” suara itu menghamburkan kontak kami yang hanya beberapa detik itu. Agis di sana. Duduk bersebelahan. Sangat dekat.
Kak Dika tersenyum ke arahnya lalu mereka berbicang.
“ayo pulang” kataku menutup notebookku lalu memasukannya ke dalam tas.
Dan pergi. Versama Edgar. Dan semoga baik-baik saja.
--
Dika.
Apa yang harus aku lakuakn? Apa yang kau lakukan jika kamu adalah aku?
Semalam aku sudah memberanikan diri untuk menghampiri Nindya. Dan yang aku dapati Nindya bersama Edgar. Berdua.
Aku pikir hanya sebentar. Aku tetap duduk menatap mereka berdua sampai mata kami bertemu. Dan Agis datang membuyarkan semuanya.
Sampai aku kehilangan Nindya yang aku tidak tahu kapan ia beranjak dari tempatnya duduk.
Aku kehilangan kesempatanku.
Soal Edgar? Aku berharap mereka tidak bersama walaupun aku tahu seberapa berharapnya Edgar itu pada Nindya.

--

Nindya.
Aku bersumpah tak akan menginjakan kakiku di kantin lagi. Tidak akan ke tempat buku di mall itu lagi. Dan aku tak mau lagi melihat kak Dika.
Aku bukan marah. Aku hanya takut kecewa lebih jauh lagi.
Aku tidak mau mengharapkannya lagi. Aku tidak mau menunggunya duduk bersama cappuccino lagi. Dan aku tidak ingin menghirup aroma minuman itu lagi.
Aku menyerah kak Dika.

--

Dika.
Sudah selesai aku rasa.
Nindya tidak ada di manapu. Aku tidak pernah melihatnya berada di kantin lagi. Tidak pernah ada di toko buku lagi. Ini sudah berhari-hari setelah aku melihatnya bersama Edgar. Dan dia benar-benar pergi.
Ternyata benar. Aku mengharapkannya. Dan benar. Dia tidak mengharapkanku. Dia masih mencintai Edgar. Dan kembalinya Edgar merubah segalanya.
Ya. Aku yakin!
Aku menyerah Nindya.

--

Tidak ada komentar:

Posting Komentar