Nindya.
“Dosennya
engga ada Nin” kata santi. Anak dari NTT yang entah bisa nyasar di Jakarta.
Aku berjalan
jontai menuju kursi yang selalu menjadi tempatku. Sudah bangun sepagi ini dan
dengan tanpa dosa dan tanpa kabar, dosen engga dateng entah dengan alasan apa.
“mau pulang
apa mau tetap di sini Nindya?” tanya Iqbal, salah satu temanku yang cerewet
walaupun dia laki-laki.
“duluan aja
Bal, aku masih males turun” jawabku malas. Aku basu saja duduk dan haruskah aku
turun lagi?
Aku menatap
sekeliling. Tidak ada orang satupun. Sepagi ini kampus memang biasa sepi. Kakiku langsung refleks bangun lalu berjalan
menyusuri lorong menuju tangga turun. Sepertinya aku butuh kopi untuk pagi ini.
--
Dika.
Pagi ini
tidak ada Dosen dan artinya aku tidak akan masuk kelas. Aku sudah terlanjur
sampai kampus dan rasanya aku malas sekali kalo harus langsung pulang.
Aku membuka
ponsel. Dari tadi hanya group BBM saja yang berisik mencaci maki dosen yang
seenaknya tidak masuk tanpa pemberitahuan sebelumnya dan membiarkan yang sudah
terlanjur datang jadi sia-sia. Seperti aku.
Aku tutup tab
chat BBM dan memasukkannya kembali kedalam tas. Lalu...
Di sana.
Tepat di depanku. Nindya baru saja duduk membawa segelas kopi dengan asap yang
mengepul. Wajahnya sedikit masam. Ada apa sepagi ini?
Dia
tersenyum! Aku membalasnya. Dan kali ini dia menyadari keberadaanku setelah
beberapa kali ia tidak menyapaku walaupun kita berpapasan sangat dekat. Tapi
kali ini ia tersenyum padaku.
Aku mengambil
nafas panjang lalu meminum kopi yang hampir dingin di hadapanku. Calm down Dika. Jangan panik. Santai saja.
Aku berusaha biasa saja seperti biasa. Menghampirinya? Tidak! Aku tahu apa yang
akan ia lakukan. Pergi.
--
Nindya.
Kak dika
dihadapanku. Tidak tepat didepanku memang. Tapi darisini aku dapat melihat dirinya
begitu jelas.
Aku baru saja
memberanikan diri untuk tersenyum dan yap! Dibalas! Untuk kali ini aku puas
karena biasanya aku takut untuk menyapanya. Takut ia tidak mengingatku.
Aku membuang
pandanganku pada segerombolan anak teknik yang sedang tertawa sambil memandangi
ponsel mereka. Entah lah itu terlihat sangat tidak penting. Tapi ya tuhan aku
mati gaya di hadapan kak Dika!
--
Dika.
Aku melihat
jam. Kali ini sudah hampir keseribu kalinya. Dan aku masih belum bisa menemukan
Nindya.
Haha aku
tidak sedang janjian! Aku hafal. Hari ini adalah jadwalnya untuk ke toko buku
di mall dekat rumahnya. Beberapa bulan yang lalu tidak sengaja aku melihatnya
disini pada hari jum’at. Dan pada jum’at berikutnya ia ada di sana juga. Dan
seterusnya sampai saat ini. Sudah lewat dari pukul 4 dan dia belum ada. Apa dia
sedang tidak ingin ke toko buku? Tidak mungkin. Aku tahu Nindya mencintai toko
buku. Matanya selalu berbinar saat dia ada disini.
Dia juga
pecinta novel romance. Ia selalu berada di rak itu. Dan aku? Tentu saja berdiri
di Rak sejarah agar dapat mengawasinya dari jauh namun terlihat jelas.
Menghampirinya?
Tidak pernah! Aku tidak menjamin ia mengingat aku. Tapi. Setelah kemarin pagi
ia tersenyum padaku. Aku yakin ia mengingat aku dan hari ini. Aku akan
menyapanya.
Tapi. Seperti
yang aku lihat. Tak ada Nindya di setiap sudut toko buku ini.
--
Nindya.
Aku telat,
aku telat, aku telat......
Ini semua
karena angkot yang berjalan dengan sangat lambat dan selalu berhenti di
sembarang tempat. Belum lagi macet di stasiun lenteng agung.
Aku menengok
jam tangan setelah membayar angkot. Jam 4! Aku langsung menaiki tangga
penyebrangan dan sedikit berlari menuju pintu masuk mall. Mencari-cari
eskalator lalu menuju toko buku.
Dan..
“hai Nindya”
suara ini. Aku mengenalnya. Sangat mengenalnya.
Aku berbalik
“Edgar?” aku mengerutkan kedua alisku.
“kebetulan
banget ya kita ketemu di sini” sapanya ramah dan menurutku sedikit menjijikan.
Aku membenci
laki-laki di depanku ini. Dia mantan kekasihku yang dengan teganya menduakan
aku lalu pergi begitu saja. Setelah itu ia meminta kembali sambil meminta maaf.
Dan kenapa kebetulan yang bodoh ini menjebakku sekarang?
Aku ke tempat
ini untuk bertemu kak Dika! Dan aku terlambat! Dan aku malah bertemu Edgar!
Tuhaaaan....
Fyi: Edgar
dan Kak dika berteman. Rumah mereka berdekatan. Dan aku mengenal kak dika dari
Edgar. Tapi aku tidak peduli. Edgar sudah mati untukku.
--
Dika
Akhirnya
Nindya datang. Tapi tak seperti yang aku harapkan. Dia bersama Edgar. Ya. Edgar
mantan kekasihnya itu. Yang bodoh menyia-nyiakan Nindya.
Aku pikir
Nindya tidak akan kembali pada Edgar. Tapi pemandangan di depanku ini.... ah...
aku tidak tahu harus apa.
Kakiku refleks
melangkah. Pergi menjauh dari mereka berdua. Entah lah seperti sakit. Nindya
memang bukan milikku. Tapi sungguh, sejak pertama aku melihatnya, aku selalu
ingin memilikinya. Sampai aku mendengar Edgar dan Nindya purus. Aku tahu Nindya
adalah untukku.
Aku pusing!
Aku mau pulang! Aku mau tidur! Lalu menangis dalam mimpi!
--
Nindya.
Aku mecari
kak Dika di seluruh sudut toko buku. Selain di rak sejarah, aku sering
melihatnya berada di rak bahasa dan majalah. Tapi kali ini aku tidak
menemukannya.
Jadi fix!
Hari ini sangat menjengkelkan! Tujuan utamaku adalah untu melihat kak Dika yang
biasa ke tempat ini setiap hari Jum’at dan kali ini aku terlambat. Dan juga
ketemu dengan Edgar yang dari tadi tidak berhenti membuntutiku.
“kamu nyari
buku atau orang?” Edgar membuat kakiku berhenti bergerak.
“bukan urusan
kamu” jawabku ketus lalu pergi.
--
Dika.
Sebenarnya semua
ini kesalahan siapa? Aku yang diam-diam menyukai Nindya?
Sungguh aku
pernah berusaha untuk tidak memikirkannya dan menghapus namanya sejak aku
menyukainya dulu. Tapi demi tuhan. Banyak sekali kebetulan-kebetulan yang
membuat aku malah semakin menginginkannya.
Setiap berhadapan
dengan Nindya, aku seperti tidak dapat bernafas, dan terasa sangat mustahil
untuk aku menyapanya dengan dia yang sangat-sangat tidak menyadari keberadaanku
di sekitarnya. Kecuali di kantin beberapa hari yang lalu. Satu kali dari dua
tahun lebih aku mengenalnya dan menyukainya.
Aku sudah
duduk dengan cappuccino hangat di depanku. Hari ini hari senin Nindya biasanya
lewat sini sebelum pulang. Sekedar membeli air mineral atau sering juga dia
duduk sambil membuka notebooknya entah mengerjakan apa. Tapi yang terpenting
aku dapat melihatnya.
Tapi ini
sudah satu jam dan dia tidak muncul juga. apa kembalinya Edgar juga merubah
kebiasaannya? Ah.. aku benci jika mengingat nama temanku itu.
--
Nindya.
Aku memeluk lututku
sendiri di koridor kampus yang sudah hampir gelap karena sudah hampir malam.
Sakit.
Di kepalaku
berputar-putar kata-kata Agis tadi siang.
‘aku suka
sama kak Dika Nin’ begitu katanya
Lalu aku
bertanya ‘Dika yang mana?’
Dengan riang
Agis menjawab ‘ yang anak IT, kalo ga salah kata kamu dia temannya Edgar
mantanmu itu. Entah perasaanku aja atau emang bener dia suka ngeliatin aku kalo
ketemu di kantin’
Saat itu juga
aku merasa semua tentang kak Dika abu-abu.
Tak ada yang
aku beritahu tentang perasaanku memang. Cukup aku dan kalo bisa kak Dika juga
walaupun mustahil.
Dan Agis. Sahabatku
sendiri. Dia berkata akan berusaha untul mendapatkan kontak kak Dika.
‘Berusaha’
dan aku? Aku engga bisa seberani Agis yang lebih agresif untuk mendapatkan apa
yang ia inginkan.
Ah sudah lah.
Dapat melihat kak Dika setiap hari duduk di kantin sudah membuat aku senang.
Aku melihat
jam di tanganku. Jam 7. Aku tahu kak Dika tidak mungkin masih ada di kantin
seperti biasa. Ia pasti sudah pulang. Atau mungkin Agis sedang melancarkan
aksinya dan mereka sedang duduk bersama di kantin sambim menikmati cappuccino
seperti yang biasa kak Dika lakukan.
--
Dika.
Aku menggaruk-garuk
kepalaku untuk entah keberapa kali. Aku pusing. Entah tadi ada perempuan yang
meminta nomorku dan hari ini dia tidak berhenti menerorku.
Agis namanya.
Cantik memang. Tapi dia sangat agresif dan tidak berhenti membuat ponselku
berdering. Aku sedikit menyesal berusaha ramah dengan memberikan nomorku. Harusnya
aku tahu perempuan agresif yang tiba-tiba menghampiri laki-laki di
tengah-tengah kantin akan membuatku gila.
‘kak? Udah tidur
ya?’ entah pesan keberapa.
Aku menutup
ponselku lalu menutup wajahku dengan bantal. Andai yang meminta nomorku adalah
Nindya.
Meminta nomornya?
Aku belum pernah mencobanya.
--
Nindya.
Aku tidak
mengharapkan kak Dika duduk di kantin seperti biasa. Aku tahu pasti dia sudah
asik dengan Agis. Tadi Agis bilang ia sudah berhasil mendapatkan nomornya dan
mereka SMSan sampai tengah malam.
Aku? Hanya tersenyum
sebisaku karena hatiku bukan hanya teriris. Namun hancur perlahan.
Asap Cappuccino
di depanku sudah menghilang. Aku yakin suda dingin karena tak aku sentuh sejak
setengah jam yang lalu benda ini mendarat di hadapanku.
Aku sedang
hancur. Dan ternyata aku tidak tertarik dengan kopi ini seperti biasanya.
Ini adalah
keterlambatanku untuk berbuat. Untuk berusaha seperti yang agis lakukan. Sampai
akhirnya aku benar-benar terlambat untuk mendapatkan yang aku inginkan sejak
dua tahun yang lalu.
“Nindya”
suara itu.
Aku menghapus
semua pikiranku dan menengok ke belakang.
“Edgar?”
Dengan senyumnya
ia duduk di sebelahku.
“ngapain di
sini?” ini bukan kampusnya dan apa yang ia lakukan di sini?
“jemput kamu”
katanya enteng.
Aku diam. Kali
ini aku tidak mood untuk bertengkar apa lagi dengan Edgar. Sejujurnya. Aku sedang
butuh seseorang untuk meredakan perasaanku.
“diminum itu
kopinya. Terus aku antar pulang” katanya tanpa aku risaukan.
Aku masih
diam. Haruskah?
Api sungguh
aku butuh peralihan dari kak Dika.
Mataku kini
menata- lurus ke depan.
Kak Dika
ternyata ada di sana. Entah sejak kapan. Menatap ke arah kami.n lurus tanpa
berkedip. Aku yakin persis seperti apa yang sedang aku lakukan.
“Hey kak”
suara itu menghamburkan kontak kami yang hanya beberapa detik itu. Agis di
sana. Duduk bersebelahan. Sangat dekat.
Kak Dika
tersenyum ke arahnya lalu mereka berbicang.
“ayo pulang”
kataku menutup notebookku lalu memasukannya ke dalam tas.
Dan pergi. Versama
Edgar. Dan semoga baik-baik saja.
--
Dika.
Apa yang
harus aku lakuakn? Apa yang kau lakukan jika kamu adalah aku?
Semalam aku
sudah memberanikan diri untuk menghampiri Nindya. Dan yang aku dapati Nindya
bersama Edgar. Berdua.
Aku pikir
hanya sebentar. Aku tetap duduk menatap mereka berdua sampai mata kami bertemu.
Dan Agis datang membuyarkan semuanya.
Sampai aku
kehilangan Nindya yang aku tidak tahu kapan ia beranjak dari tempatnya duduk.
Aku
kehilangan kesempatanku.
Soal Edgar? Aku
berharap mereka tidak bersama walaupun aku tahu seberapa berharapnya Edgar itu
pada Nindya.
--
Nindya.
Aku bersumpah
tak akan menginjakan kakiku di kantin lagi. Tidak akan ke tempat buku di mall
itu lagi. Dan aku tak mau lagi melihat kak Dika.
Aku bukan
marah. Aku hanya takut kecewa lebih jauh lagi.
Aku tidak mau
mengharapkannya lagi. Aku tidak mau menunggunya duduk bersama cappuccino lagi. Dan
aku tidak ingin menghirup aroma minuman itu lagi.
Aku menyerah
kak Dika.
--
Dika.
Sudah selesai
aku rasa.
Nindya tidak
ada di manapu. Aku tidak pernah melihatnya berada di kantin lagi. Tidak pernah
ada di toko buku lagi. Ini sudah berhari-hari setelah aku melihatnya bersama
Edgar. Dan dia benar-benar pergi.
Ternyata benar.
Aku mengharapkannya. Dan benar. Dia tidak mengharapkanku. Dia masih mencintai
Edgar. Dan kembalinya Edgar merubah segalanya.
Ya. Aku yakin!
Aku menyerah
Nindya.
--
Tidak ada komentar:
Posting Komentar