Panas, satu kata yang
keluar dari mulutku setelah bel sekolah berbunyi dan semua siswa berhamburan ke
luar kelas untuk pulang.
“Alika” teriak
seseorang dari belakangku, aku menghentikan langkah dan menengok ke belakang.
‘Raka’ aku menelan ludah sekuat tenaga.
“Alika, ini
ketingalan” Raka mengulurkan sebuah buku catatan berwarna ungu yang bertuliskan
namaku di atasnya.
Aku sempat membeku
sampai tanganku bisa memegang buku itu “makasih ya” kataku sambil tersenyum,
aku yakin sekali wajahku sudah semerah udang rebus.
“Pulang sama siapa?”
kata Raka yang kini berjalan disebelahku, beriringan.
Jantungku
berdegup sekencang-kencangnya,
rasanya bibirku ini tidak sanggup untuk mengatakan apa-apa pada
ketua kelasku ini. ‘Hello Alika, Raka berdiri di sampingmu sekarang!!’ batinku
kegirangan.
“Alika?” sekarang
wajah Raka terlihat bingung.
“ah.. aku pulang
sendiri Ka” jawabku setelang mengumpulkan nyawaku yang beterbangan karena
kegirangan.
“mau bareng? Kebetulan
aku lewat rumah kamu sekarang, aku baru pindah”
Dek- rasanya jantungku
berhenti dan darahku mengalir lebih cepat tanpa di pompa. Oh tuhan, kakiku mati
rasa sekarang.
“mau Ka?” Raka
menegaskan pertanyaannya lagi disusul dengan anggukan dariku. Mana mungkin aku
menolaknya?
1, 2, 3 dan sekarang
aku sudah duduk di belakang Raka. Mimpi apa aku semalam bisa diboncengi oleh my
prince charming?
“Alika pegangan” kata
raka setelah polisi tidur di depan sekolah membuat aku hampir terjatuh,
sebenarnya bukan karena tidak pegangan, ini karena otaku saja yang sedang
sedikit tidak berfungsi.
Kami terjebak dalam
diam, jangankan untuk berbicara, untuk bernafaspun aku sulit. Tanganku sudah
ada di pinggang Raka sesuai dengan perintahnya tadi. Senyumku tak lepas
depanjang jalan, aku rasa Raka bisa mendengar degup jantungku yang semakin
terasa kencang dan tidak beraturan ini.
Raka sudah menjadi
orang yang aku sukai semenjak baru masuk sekolah dulu. Tubuhnya atletis,
kulitnya sawo matang terbakar matahari lapangan basket, matanya coklat bulat
dihiasi alis tebal, rambutnya ikal, ada kumis tipis di wajahnya, dia amat
manis. Siapa yang tidak suka melihat dia? Idolanya merhamburan di seantero
sekolah. Aku lah salah satu dari fansnya, tapi berhubung aku bukan seseorang
yang tenar, aku mundur karena sainganku tak terkalahkan.
Waktu itu yang
terberat adalah kak Sintya, dia ketua osis di sekolah. Dia cantik, putih,
tinggi dan ramah. Dia menyukai Raka jelas sekali saat kami ospek dan Rakalah
yang selalu diistimewakan sampai ia dipilih menjadi ketua kelas, sempat
ditawarkan ikut osis tapi Raka menolaknya. Sempat ada kabar mereka pacaran tapi
Raka selalu bilang ‘ah,,, itu gosip, aku tidak pacaran dengan siapapun’
Selanjutnya Aninditha,
teman satu angkatanku yang terkenal Dacer papan atas disekolah maupun diluar. Tubuhnya
ramping, putih, mulus walaupun tidak terlalu tinggi,rambutnya hitam pekat
panjang dan menurutku indah. Aku sempat mendengar Aninditha membicarakan Raka
‘semalem aku sms-an sama Raka, ya tuhan ternyata dia ramah banget, kayanya aku
bisa nih pacaran sama dia’ saat itu juga harapanku pupus. Beberapa hari
kemudian aku mendengar Raka berbincang dengan temannya dan berkata ‘Rasanya
perempuan seperti Aninditha tidak cocok untuku, dia terlalu banyak maunya dan
suka memerintah, aku tidak suka padanya’ saat itu pula bibirku melengkungkan
senyuman indah.
Dan satu lagi, ketika
kami sudah menginjak kelas 3, adik kelas yang katanya didekati oleh Raka yaitu
Amel. wajahnya polos,tapi matanya bersinar, Ia cantik dan manis, tentu saja
pilihan Raka tak mungkin di bawah standar. Ada gosip katanya ia adalah model di
majalah remaja tapi sampai saat ini aku belum pernah melihat wajahnya di
majalah. Kabar itu dibenarkan ketika aku melihat mereka duduk berdua di di
kantin. Rasanya aku seperti mau mati melihat mereka begitu akrab. Tapi tidak
berapa lama Amel keluar dari sekolah dan pindah ke kota lain, katanya. Aku
tidak melihat sedikitpun kesedihan di wajah Raka setelah Amel pindah.
“Alika, Hujan” suara
Raka membuyarkan semua pikiranku, kini aku mulai merasakan rintik-rintik hujan
di kulitku.
Aku hanya
celingak-celinguk dan menyadari jalan ke rumah ku masih jauh dan semakin lama
hujan semakin deras.
Raka membelokan sepeda
motornya ke subah warung yang tutup namun ada teras yang bisa dijadikan tempat
berteduh.
Dingin- beberapa menit
yang lalu langit masih sangat cerah dan sekarang hujan amat deras. Setidaknya
hujan kali ini membuat hatiku senang, aku bisa lebih lama bersama Raka karena
hujan. Bibirku tersenyum, aku bahagia.
“kayanya hujannya awet
nih” aku berusaha membuka topik pembicaraan, hujannya begitu deras dan aku
yakin ini akan berlangsung lama.
“iya engga apa-apa,
aku ada yang nemenin ini” kata Raka, senyumnya menghadap padaku yang
mengartikan senyum itu untuku. “engga apa-apa kan kamu nemenin aku?” lanjut
Raka masih dengan senyumnya yang seperti gulali itu, menggemaskan.
Aku tersipu, pasti
wajahku merah sekarang.
“ha ha ha…” Raka
terkekeh dan sepertinya karena ekspresiku, “kamu lucu ya, aku suka berada dekat
dengan orang seperti kamu. Tanpa kamu bicara, senyum kamu itu bisa
menggambarkan apa yang ada di otak mu. Kamu pasti bukan tipe orang yang pandai
berbohong” lanjut Raka.
Kali ini perkataan
Raka benar. Tapi wait, ‘senyumku menggambarkan apa yang aku pikirkan?’ jadi dia
tahu aku memikirkannya? Ah tuhan, lindungi hambumi ini.
“banyak orang yang
punya muka lebih dari dua, aku benci orang-orang seperti itu. Dan yang aku
tidak suka karena mereka menggunakan bakat aktingnya itu untuk membodohi orang
lain” Raka tersenyum “pake ya Ka, aku engga mau karena kamu aku paksa bareng
jadi sakit” aku tidak sadar Raka menyangkutkan jaketnya di kedua bahuku.
Aku tersenyum “makasih
ya ka” entah kenapa rasa canggungku hilang. Kata-kata Raka barusan benar-benar
menggambarkan kekecewaan. Mungkin kata-katanya barusan ada hubungannya dengan
beberapa wanita yang dekat dengannya belakangan ini. Ah, memikirkan itu membuat
aku kesal sendiri.
Raka tersenyum padaku
lalu membuang pandangannya pada ujan di depan kami, sama denganku. kini kami
terjebak diam, aku menikmati diam ini, diam yang nyaman bersama Raka di sisiku.
Bisa bayangkan rasanya sedang bersama orang yang kau damba dan membuatmu
menunggunya selama hampir tiga tahun?
“aku bingung Alika
sama kamu” kata-kata Raka membuyarkan lamunan ku.
Aku menengok ke wajah
Raka yang sedikit lebih tinggi dariku. Alisku sudah menggambarkan pertanyaan.
“kamu cantik, tinggi,
putih dan kamu tidak aktif di sekolah. Kenapa?” kini Raka menatapku.
Mata kami bertemu,
rasanya seperti ada sinar di matanya yang membuat aku tak mau berpaling dari
sana.
“kamu engga pede?
Padahal kamu sempurna Alika” katanya lagi masih menatap mataku.
Aku tersenyum, untuk
kesekian kalinya pasti wajahnku merah bukan main, aku mencoba membuang
pandanganku. Setidaknya mengalihkan wajah memerahku ini. “engga kaya yang kamu
kira Ka. Aku pemalu dan sulit bergaul, fisiku juga lemah. Apa yang bisa aku
lakukan?” kataku dengan lancara. Kata ‘sempurna’ dari Raka membuatku hampir
terbang. Jangan tinggi-tinggi Alika, jatuh itu pasti sangat sakit.
Raka terkekeh lagi
“kamu lucu Alika, aku benar-benar senang berada disini bersamamu. Sepertinya
aku harus berterima kasih kepada hujan” katanya masih dengan kekehannya.
“apanya yang lucu
Raka?” kataku, sepertinya aku malu. Pasti karena wajahku yang mirip kepiting
rebus.
“wajahmu Alika, aku
suka ekspresimu saat aku mengatakan fakta-fakta yang aku tahu tentang dirimu.
Kamu terlihat malu” kata Raka lagi masih dengan kekehannya dan di akhiri dengan
senyum gulalinya.
Kali ini aku
bennar-benar malu. “ih, engga kok” kataku membantah.
“sudah aku bilang,
kamu itu tidak bisa berbohong Alika. Sama seperti aku, Aku juga tidak bisa
berbohong” kata Raka yang kini berdiri semakin dekat denganku.
Aku terdiam membeku.
Kata-katanya barusan menegaskan bahwa apa yang ia katakana adalah apa yang ia
yakini, termasuk tentang aku.
“dan kau tahu Alika?
Untuk pertama kalinya kita berbicaara sedekat ini. Aku sudah tahu isi hatimu”
tangan Raka melipat di depan dadanya dan alisnya terangkat sebelah. Aduh pria
ini sepertinya sedang menggodaku. Dan aku suka.
Kali ini aku tidak
bisa bergerak apa lagi untuk menatap mata Raka. Mataku lurus memandang hujan
walaupun telingaku sangat fokkus pada setiap kata yang Raka ucapkan.
“apa kau tahu semua
yang ada di hatiku juga?” lanjut Raka.
Aku menengok berusaha
menatap mata Raka.
Raka tersenyum “kalo
dari tadi saat aku berbicara kamu menatap mataku, kamu pasti tahu kalo apa yang
ada di hatiku ini berbeda dengan yang ada di hatimu” pandangannya lurus ke
depan, sekali lagi ia menatap hujan.
Aku menunduk. Ia tahu
aku menyukainya dan ia tidak merasakan itu.
“coba tatap mataku
sekali lagi dan tebak” kata Raka kini kembali menatapku.
Aku meberanikan diri
kembali menatap mata Raka. Mata coklat bulat dibingkai alis tebal yang indah.
Aku malah sibuk menatap keindahan ketimbang menerawang ke dalamnya.
Raka tersenyum lagi.
Ya tuhan, manusia ini membuat aku geger otak.
Pandangan kami
bertemu, detak jantungku rasanya bisa terdengar dengan jelas.
“benar kan? Yang ada
di hatimu dan di hatiku berbeda?” kata Raka dengan jelas, lantang dan dengan
senyum indah.
Aku masih menatap
matanya, bila ia tidak merasakan apa yang aku rasakan, setidaknya aku ingin
tahu apa yang ia rasakan.
“di hatimu ada aku,
dan kau tahu?” kata Raka terputus.
Jantungku berdegup
kencang. Rasanya aku ingin menangis saja sekarang. Aku menunggu kata-kata
selanjutnya.
“dan di hatiku ada
kamu” lanjut Raka dengan sorot mata yang kini berubah menghangatkan.
Aku membeku, berkedip
pun aku tidak bisa. Tangan dan kakiku mati rasa, hanya mataku yang terasa
hangat menatap Raka, dan telingaku yang mendengar kata-kata indah itu. Mulutku
terkunci rapat tak bisa berkata apapun. Bila aku seperti Spongebob, aku-aku
kecil di dalam otaku pun berhenti bekerja karena kata-kata Raka tadi.
“aku pikir kamu akan
mengetahuinya tanpa aku bilang Alika” lanjut Raka dengan tubuhnya yang kini
semakin rapat denganku.
Aku masih tidak bisa
mengeluarkan ekspresi lain selain senyuman.
“awalnya aku pikir
kamu tidak tertarik padaku dari dulu, dan hari ini. jika bukan karena kita
terjebak hujan, aku tidak akan tahu kau menyukaiku” Raka tertawa kecil.
“bagai mana bisa kamu
berkata aku tidak tertarik padamu, semua perempuan di sekolah tertarik padamu
bukan?” kataku, bibir dan otaku kini sudah berfungsi dengan baik. Aku harap.
Raka mengangkat ujung
bibirnya sedikit. “kamu tidak pernah menunjukan ketertarikanmu. Kau diam, tidak
bisa aku dekati dan terkesan menghindar. Tapi hari ini mengubah pendapatku,
andai saja aku berani menatap matamu dari dulu, mungkin aku akan tahu lebih
cepat” kata Raka dengan bumbu lesung pipit indah yang bisa aku tatap. “sayangnya
baru kali ini aku punya keberanian untuk menatap matamu yang jujur itu”
Wajahku memerah lagi
pasti. Aku menunduk. Rasanya ada kupu-kupu mengoyak-oyak perutku sekarang.
Tanganku merasakan
sesuatu yang hangat. Genggaman tangan Raka.
“dari hari pertama aku
melihat kamu, aku tertarik dengan wajah polosmu itu. Aku sempat bertaruh pada
diriku sendiri, wanita sesempura kamu tidak mungkin bisa aku dapatkan” katanya
dan kali ini membuat wajahku semakin memerah. Ah kulit memalukanku.
“tapi
perempuan-perempuan sempurna seperti kak Sintya, Aninditha, dan amel? Mereka
sepertinya cocok untukmu” kataku. Ah, apa sih Alika, kamu mau memperburuk
keadaan dengan mengorek-orek masalalunya? Tapi sungguh, aku penasaran dengan
Raka dan wanita-wanita popular sekolah itu.
Adit tertawa,
menurutku pertanyaan ini sama sekali tidak lucu. “aku tadi bilangkan? Banyak
orang bermuka dua. Mereka adalah bagian dari itu sepertinya. Aku sama sekali
tidak pernah tertarik dengan mereka. Gosip-gosip tidak bertanggung jawab itu
aku tidak tahu dari mana” katanya panjang lebar.
Aku tersenyum, pasti
banyak cinta bertebaran di sekitar kami.
Kami terjebak diam,
aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebahagiaanku ini.
Tangan kami masih
berpegangan erat. Hangat sekali rasanya.
“Alika, aku sayang
kamu. bahagianya aku hari ini terjebak hujan bersamamu, jika tidak seperti ini,
mungkin aku masih sibuk bertanya-tanya tentang perasaanmu” Raka menghadap ke
arahku.
Hari ini suara rintik
hujan terdengar sangat merdu. Untuk pertama kalinya aku berharap hujan tetap
menjebak kami disini.
Aku tersenyum. “jika
semua itu benar. Kamu pintar menyembunyikannya” kataku dengan berbagai ekspresi
kebahagiaanku. Menurutku, tak ada satupun sikap Raka yang menggambarkan dia tertarik
pada ku dari dulu.
“bukan aku yang
pintar, tapi kita berdua yang tidak pernah punya waktu untuk saling membaca
perasaan masing-masing” jawabnya dan genggam tangannya terasa semakin hangat.
Kami memang tidak
pernah punya kesempatan untuk berbincang, dia sibuk dengan dunianya dan aku
hanya aku saja.
Kami saling terdiam
lagi. Wajah kami sama-sama dihiasi senyuman. Senyuman jatuh cinta.
“jadi …” kata Raka
memecah sunyi. Pertanyaan?
“Jadi?” kini kataku,
apa yang ingin kau katakan Raka?
“jadi sekarang kita?”
kata Raka lagi, kedua alisnya bertemu.
Aku tersenyum sambil
mengangguk. Mana mungkin wajahku tidak merah. Dan mana mungkin senyumku tidak
melambangkan kebahagiaan.
Raka tersenyum lagi.
Senyum gulali meneggemaskan itu lagi. “makasih ya Alika” katanya menatap ke
langit yang
masih hitam. Tanganku digenggam semakin erat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar