Rabu, 30 September 2015

The Eyes [CerPen]



Panas, satu kata yang keluar dari mulutku setelah bel sekolah berbunyi dan semua siswa berhamburan ke luar kelas untuk pulang.
“Alika” teriak seseorang dari belakangku, aku menghentikan langkah dan menengok ke belakang. ‘Raka’ aku menelan ludah sekuat tenaga.

“Alika, ini ketingalan” Raka mengulurkan sebuah buku catatan berwarna ungu yang bertuliskan namaku di atasnya.
Aku sempat membeku sampai tanganku bisa memegang buku itu “makasih ya” kataku sambil tersenyum, aku yakin sekali wajahku sudah semerah udang rebus.
“Pulang sama siapa?” kata Raka yang kini berjalan disebelahku, beriringan.
Jantungku berdegup sekencang-kencangnya, rasanya bibirku ini tidak sanggup untuk mengatakan apa-apa pada ketua kelasku ini. ‘Hello Alika, Raka berdiri di sampingmu sekarang!!’ batinku kegirangan.
“Alika?” sekarang wajah Raka terlihat bingung.
“ah.. aku pulang sendiri Ka” jawabku setelang mengumpulkan nyawaku yang beterbangan karena kegirangan.
“mau bareng? Kebetulan aku lewat rumah kamu sekarang, aku baru pindah”
Dek- rasanya jantungku berhenti dan darahku mengalir lebih cepat tanpa di pompa. Oh tuhan, kakiku mati rasa sekarang.
“mau Ka?” Raka menegaskan pertanyaannya lagi disusul dengan anggukan dariku. Mana mungkin aku menolaknya?
1, 2, 3 dan sekarang aku sudah duduk di belakang Raka. Mimpi apa aku semalam bisa diboncengi oleh my prince charming?
“Alika pegangan” kata raka setelah polisi tidur di depan sekolah membuat aku hampir terjatuh, sebenarnya bukan karena tidak pegangan, ini karena otaku saja yang sedang sedikit tidak berfungsi.
Kami terjebak dalam diam, jangankan untuk berbicara, untuk bernafaspun aku sulit. Tanganku sudah ada di pinggang Raka sesuai dengan perintahnya tadi. Senyumku tak lepas depanjang jalan, aku rasa Raka bisa mendengar degup jantungku yang semakin terasa kencang dan tidak beraturan ini.
Raka sudah menjadi orang yang aku sukai semenjak baru masuk sekolah dulu. Tubuhnya atletis, kulitnya sawo matang terbakar matahari lapangan basket, matanya coklat bulat dihiasi alis tebal, rambutnya ikal, ada kumis tipis di wajahnya, dia amat manis. Siapa yang tidak suka melihat dia? Idolanya merhamburan di seantero sekolah. Aku lah salah satu dari fansnya, tapi berhubung aku bukan seseorang yang tenar, aku mundur karena sainganku tak terkalahkan.
Waktu itu yang terberat adalah kak Sintya, dia ketua osis di sekolah. Dia cantik, putih, tinggi dan ramah. Dia menyukai Raka jelas sekali saat kami ospek dan Rakalah yang selalu diistimewakan sampai ia dipilih menjadi ketua kelas, sempat ditawarkan ikut osis tapi Raka menolaknya. Sempat ada kabar mereka pacaran tapi Raka selalu bilang ‘ah,,, itu gosip, aku tidak pacaran dengan siapapun’
Selanjutnya Aninditha, teman satu angkatanku yang terkenal Dacer papan atas disekolah maupun diluar. Tubuhnya ramping, putih, mulus walaupun tidak terlalu tinggi,rambutnya hitam pekat panjang dan menurutku indah. Aku sempat mendengar Aninditha membicarakan Raka ‘semalem aku sms-an sama Raka, ya tuhan ternyata dia ramah banget, kayanya aku bisa nih pacaran sama dia’ saat itu juga harapanku pupus. Beberapa hari kemudian aku mendengar Raka berbincang dengan temannya dan berkata ‘Rasanya perempuan seperti Aninditha tidak cocok untuku, dia terlalu banyak maunya dan suka memerintah, aku tidak suka padanya’ saat itu pula bibirku melengkungkan senyuman indah.
Dan satu lagi, ketika kami sudah menginjak kelas 3, adik kelas yang katanya didekati oleh Raka yaitu Amel. wajahnya polos,tapi matanya bersinar, Ia cantik dan manis, tentu saja pilihan Raka tak mungkin di bawah standar. Ada gosip katanya ia adalah model di majalah remaja tapi sampai saat ini aku belum pernah melihat wajahnya di majalah. Kabar itu dibenarkan ketika aku melihat mereka duduk berdua di di kantin. Rasanya aku seperti mau mati melihat mereka begitu akrab. Tapi tidak berapa lama Amel keluar dari sekolah dan pindah ke kota lain, katanya. Aku tidak melihat sedikitpun kesedihan di wajah Raka setelah Amel pindah.
“Alika, Hujan” suara Raka membuyarkan semua pikiranku, kini aku mulai merasakan rintik-rintik hujan di kulitku.
Aku hanya celingak-celinguk dan menyadari jalan ke rumah ku masih jauh dan semakin lama hujan semakin deras.
Raka membelokan sepeda motornya ke subah warung yang tutup namun ada teras yang bisa dijadikan tempat berteduh.
Dingin- beberapa menit yang lalu langit masih sangat cerah dan sekarang hujan amat deras. Setidaknya hujan kali ini membuat hatiku senang, aku bisa lebih lama bersama Raka karena hujan. Bibirku tersenyum, aku bahagia.
“kayanya hujannya awet nih” aku berusaha membuka topik pembicaraan, hujannya begitu deras dan aku yakin ini akan berlangsung lama.
“iya engga apa-apa, aku ada yang nemenin ini” kata Raka, senyumnya menghadap padaku yang mengartikan senyum itu untuku. “engga apa-apa kan kamu nemenin aku?” lanjut Raka masih dengan senyumnya yang seperti gulali itu, menggemaskan.
Aku tersipu, pasti wajahku merah sekarang.
“ha ha ha…” Raka terkekeh dan sepertinya karena ekspresiku, “kamu lucu ya, aku suka berada dekat dengan orang seperti kamu. Tanpa kamu bicara, senyum kamu itu bisa menggambarkan apa yang ada di otak mu. Kamu pasti bukan tipe orang yang pandai berbohong” lanjut Raka.
Kali ini perkataan Raka benar. Tapi wait, ‘senyumku menggambarkan apa yang aku pikirkan?’ jadi dia tahu aku memikirkannya? Ah tuhan, lindungi hambumi ini.
“banyak orang yang punya muka lebih dari dua, aku benci orang-orang seperti itu. Dan yang aku tidak suka karena mereka menggunakan bakat aktingnya itu untuk membodohi orang lain” Raka tersenyum “pake ya Ka, aku engga mau karena kamu aku paksa bareng jadi sakit” aku tidak sadar Raka menyangkutkan jaketnya di kedua bahuku.
Aku tersenyum “makasih ya ka” entah kenapa rasa canggungku hilang. Kata-kata Raka barusan benar-benar menggambarkan kekecewaan. Mungkin kata-katanya barusan ada hubungannya dengan beberapa wanita yang dekat dengannya belakangan ini. Ah, memikirkan itu membuat aku kesal sendiri.
Raka tersenyum padaku lalu membuang pandangannya pada ujan di depan kami, sama denganku. kini kami terjebak diam, aku menikmati diam ini, diam yang nyaman bersama Raka di sisiku. Bisa bayangkan rasanya sedang bersama orang yang kau damba dan membuatmu menunggunya selama hampir tiga tahun?
“aku bingung Alika sama kamu” kata-kata Raka membuyarkan lamunan ku.
Aku menengok ke wajah Raka yang sedikit lebih tinggi dariku. Alisku sudah menggambarkan pertanyaan.
“kamu cantik, tinggi, putih dan kamu tidak aktif di sekolah. Kenapa?” kini Raka menatapku.
Mata kami bertemu, rasanya seperti ada sinar di matanya yang membuat aku tak mau berpaling dari sana.
“kamu engga pede? Padahal kamu sempurna Alika” katanya lagi masih menatap mataku.
Aku tersenyum, untuk kesekian kalinya pasti wajahnku merah bukan main, aku mencoba membuang pandanganku. Setidaknya mengalihkan wajah memerahku ini. “engga kaya yang kamu kira Ka. Aku pemalu dan sulit bergaul, fisiku juga lemah. Apa yang bisa aku lakukan?” kataku dengan lancara. Kata ‘sempurna’ dari Raka membuatku hampir terbang. Jangan tinggi-tinggi Alika, jatuh itu pasti sangat sakit.
Raka terkekeh lagi “kamu lucu Alika, aku benar-benar senang berada disini bersamamu. Sepertinya aku harus berterima kasih kepada hujan” katanya masih dengan kekehannya.
“apanya yang lucu Raka?” kataku, sepertinya aku malu. Pasti karena wajahku yang mirip kepiting rebus.
“wajahmu Alika, aku suka ekspresimu saat aku mengatakan fakta-fakta yang aku tahu tentang dirimu. Kamu terlihat malu” kata Raka lagi masih dengan kekehannya dan di akhiri dengan senyum gulalinya.
Kali ini aku bennar-benar malu. “ih, engga kok” kataku membantah.
“sudah aku bilang, kamu itu tidak bisa berbohong Alika. Sama seperti aku, Aku juga tidak bisa berbohong” kata Raka yang kini berdiri semakin dekat denganku.
Aku terdiam membeku. Kata-katanya barusan menegaskan bahwa apa yang ia katakana adalah apa yang ia yakini, termasuk tentang aku.
“dan kau tahu Alika? Untuk pertama kalinya kita berbicaara sedekat ini. Aku sudah tahu isi hatimu” tangan Raka melipat di depan dadanya dan alisnya terangkat sebelah. Aduh pria ini sepertinya sedang menggodaku. Dan aku suka.
Kali ini aku tidak bisa bergerak apa lagi untuk menatap mata Raka. Mataku lurus memandang hujan walaupun telingaku sangat fokkus pada setiap kata yang Raka ucapkan.
“apa kau tahu semua yang ada di hatiku juga?” lanjut Raka.
Aku menengok berusaha menatap mata Raka.
Raka tersenyum “kalo dari tadi saat aku berbicara kamu menatap mataku, kamu pasti tahu kalo apa yang ada di hatiku ini berbeda dengan yang ada di hatimu” pandangannya lurus ke depan, sekali lagi ia menatap hujan.
Aku menunduk. Ia tahu aku menyukainya dan ia tidak merasakan itu.
“coba tatap mataku sekali lagi dan tebak” kata Raka kini kembali menatapku.
Aku meberanikan diri kembali menatap mata Raka. Mata coklat bulat dibingkai alis tebal yang indah. Aku malah sibuk menatap keindahan ketimbang menerawang ke dalamnya.
Raka tersenyum lagi. Ya tuhan, manusia ini membuat aku geger otak.
Pandangan kami bertemu, detak jantungku rasanya bisa terdengar dengan jelas.
“benar kan? Yang ada di hatimu dan di hatiku berbeda?” kata Raka dengan jelas, lantang dan dengan senyum indah.
Aku masih menatap matanya, bila ia tidak merasakan apa yang aku rasakan, setidaknya aku ingin tahu apa yang ia rasakan.
“di hatimu ada aku, dan kau tahu?” kata Raka terputus.
Jantungku berdegup kencang. Rasanya aku ingin menangis saja sekarang. Aku menunggu kata-kata selanjutnya.
“dan di hatiku ada kamu” lanjut Raka dengan sorot mata yang kini berubah menghangatkan.
Aku membeku, berkedip pun aku tidak bisa. Tangan dan kakiku mati rasa, hanya mataku yang terasa hangat menatap Raka, dan telingaku yang mendengar kata-kata indah itu. Mulutku terkunci rapat tak bisa berkata apapun. Bila aku seperti Spongebob, aku-aku kecil di dalam otaku pun berhenti bekerja karena kata-kata Raka tadi.
“aku pikir kamu akan mengetahuinya tanpa aku bilang Alika” lanjut Raka dengan tubuhnya yang kini semakin rapat denganku.
Aku masih tidak bisa mengeluarkan ekspresi lain selain senyuman.
“awalnya aku pikir kamu tidak tertarik padaku dari dulu, dan hari ini. jika bukan karena kita terjebak hujan, aku tidak akan tahu kau menyukaiku” Raka tertawa kecil.
“bagai mana bisa kamu berkata aku tidak tertarik padamu, semua perempuan di sekolah tertarik padamu bukan?” kataku, bibir dan otaku kini sudah berfungsi dengan baik. Aku harap.
Raka mengangkat ujung bibirnya sedikit. “kamu tidak pernah menunjukan ketertarikanmu. Kau diam, tidak bisa aku dekati dan terkesan menghindar. Tapi hari ini mengubah pendapatku, andai saja aku berani menatap matamu dari dulu, mungkin aku akan tahu lebih cepat” kata Raka dengan bumbu lesung pipit indah yang bisa aku tatap. “sayangnya baru kali ini aku punya keberanian untuk menatap matamu yang jujur itu”
Wajahku memerah lagi pasti. Aku menunduk. Rasanya ada kupu-kupu mengoyak-oyak perutku sekarang.
Tanganku merasakan sesuatu yang hangat. Genggaman tangan Raka.
“dari hari pertama aku melihat kamu, aku tertarik dengan wajah polosmu itu. Aku sempat bertaruh pada diriku sendiri, wanita sesempura kamu tidak mungkin bisa aku dapatkan” katanya dan kali ini membuat wajahku semakin memerah. Ah kulit memalukanku.
“tapi perempuan-perempuan sempurna seperti kak Sintya, Aninditha, dan amel? Mereka sepertinya cocok untukmu” kataku. Ah, apa sih Alika, kamu mau memperburuk keadaan dengan mengorek-orek masalalunya? Tapi sungguh, aku penasaran dengan Raka dan wanita-wanita popular sekolah itu.
Adit tertawa, menurutku pertanyaan ini sama sekali tidak lucu. “aku tadi bilangkan? Banyak orang bermuka dua. Mereka adalah bagian dari itu sepertinya. Aku sama sekali tidak pernah tertarik dengan mereka. Gosip-gosip tidak bertanggung jawab itu aku tidak tahu dari mana” katanya panjang lebar.
Aku tersenyum, pasti banyak cinta bertebaran di sekitar kami.
Kami terjebak diam, aku tidak tahu bagaimana mengungkapkan kebahagiaanku ini.
Tangan kami masih berpegangan erat. Hangat sekali rasanya.
“Alika, aku sayang kamu. bahagianya aku hari ini terjebak hujan bersamamu, jika tidak seperti ini, mungkin aku masih sibuk bertanya-tanya tentang perasaanmu” Raka menghadap ke arahku.
Hari ini suara rintik hujan terdengar sangat merdu. Untuk pertama kalinya aku berharap hujan tetap menjebak kami disini.
Aku tersenyum. “jika semua itu benar. Kamu pintar menyembunyikannya” kataku dengan berbagai ekspresi kebahagiaanku. Menurutku, tak ada satupun sikap Raka yang menggambarkan dia tertarik pada ku dari dulu.
“bukan aku yang pintar, tapi kita berdua yang tidak pernah punya waktu untuk saling membaca perasaan masing-masing” jawabnya dan genggam tangannya terasa semakin hangat.
Kami memang tidak pernah punya kesempatan untuk berbincang, dia sibuk dengan dunianya dan aku hanya aku saja.
Kami saling terdiam lagi. Wajah kami sama-sama dihiasi senyuman. Senyuman jatuh cinta.
“jadi …” kata Raka memecah sunyi. Pertanyaan?
“Jadi?” kini kataku, apa yang ingin kau katakan Raka?
“jadi sekarang kita?” kata Raka lagi, kedua alisnya bertemu.
Aku tersenyum sambil mengangguk. Mana mungkin wajahku tidak merah. Dan mana mungkin senyumku tidak melambangkan kebahagiaan.
Raka tersenyum lagi. Senyum gulali meneggemaskan itu lagi. “makasih ya Alika” katanya menatap ke langit yang masih hitam. Tanganku digenggam semakin erat.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar